Movie Review: Bohemian Rhapsody

Movie Review: Bohemian Rhapsody

poster

I was born the year Freddie Mercury died. For me Freddie is easily the one of most legendary lead singers in the history of rock and roll. I dare to say, he’s absolutely The most legendary, most powerful voice in music history. Queen also one of the most iconic rock bands in history.

Setuju atau tidak, suka atau tidak  dengan statement saya, saya yakin, saya benar jika mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada lagu yang lebih bagus atau menyamai lagu Bohemian Rhapsody dan lagu-lagu hits Queen lainnya seperti We Are The Champions, We Will Rock You, Love of My Life, Under Pressure, Somebody to Love, Killer Queen, Another One Bites to Dust, dan masih banyak lagi. Dan belum ada penyanyi yang memiliki suara sebagus, sepowerful seperti Freddie Mercury! Serta belum ada band se-Legendary Queen? Am I Right? Of course.. I AM! 😀

Kali ini kita akan membahas sebuah film yang baru saya tonton minggu lalu. Bohemian Rhapsody! Meskipun kebanyakan kritikus memberikan respon negatif kepada film ini, namun penonton berkata lain. I love it! We love it! Memang saya akui film ini adalah sebuah film crowdpleaser yang komersil. Tapi apa yang salah dengan itu? Menurut saya film ini mampu memenuhi ekspektasi penonton (khususnya saya yang sangat menyukai film ini, bahkan  masih membekas saat hingga saat ini).

BOHEMIAN RHAPSODYFilm biopic ini menceritakan perjalanan karir Freddie Mercury yang diperankan oleh aktor Rami Malek yang sebelumnya kita kenal lewat serial Mr. Robot. Dibuka dengan scene Freddie yang bersiap tampil dalam konser fenomenal LIVE AID tahun 1985 di Wembley Stadium London. Kemudian cerita kembali (flash back) ke tahun 1970, dimana Freddie masih menjadi baggage handler di Heathrow Airport. Cerita selanjutnya, Freddie pergi ke club untuk menonton konser band Smile (band lama Queen), hingga akhirnya bergabung menjadi vokalis Queen, mulai menulis lagu, rekaman bersama, konser, sukses dan kemudian beberapa masalah berdatangan (Im not good at writing story sorry… )

Meski bagian pertama dari film ini sedikit terburu buru, namun penampilan semua aktor dan aktris di film menurut saya sangat memukau hingga menutupi beberapa kekurangan film ini. Rami Malek berperan sangat baik, seakan dia memang terlahir untuk memerankan Freddie. Selain berakting dengan sangat baik, Rami juga mampu me re-create gaya, gerakan dan aksi panggung Freddie dengan sangat sempurna. Di beberapa scene ia juga memberikan penampilan emosional yang fantastis.

castPara pemain pendukung lainnya juga sangat membantu. Beberapa newcomer seperti Lucy Boynton sebagai Mary Austin dan member Queen lainnya Gwilym Lee sebagai Brian May, Ben Hardy sebagai Roger Taylor (yang super cute hehe..), dan Joseph Mazzello sebagai John Deacon, mereka semua berakting sangat baik. Meski masih tergolong newcomer mereka semua membangun chemistry yang baik sekali dengan Rami. Ada juga kemunculan Mike Myers sebagai Eksekiytif EMI Ray Foster yang terlihat berbeda dan nyaris tidak dikenali.

Di film ini Rami tidak menyanyi, namun vocal yang dipakai merupakan lagu asli Queen ditambah beberapa potongan suara pemenang Queen Extravaganza Marc Martel. Beberapa adegan live konser ditampilkan di film ini, puncaknya pada LIVE AID yang sangat menawan. Saat scene ini saya ingin bernyanyi namun karena saya tau saya berada di bioskop dimana penonton sangat tenang, alhasil saya hanya menggerakkan kaki dan mimicking/lipsync lol.

Beberapa konflik ditampilkan dalam film ini seperti konflik antara Queen dengan pihak EMI, hubungan Freddie dengan bandnya, Mary , keluarganya, kesadaran Freddie akan orientasi seksualnya (He’s gay),  hingga unhealthy/controlling/bad/toxic relationship Freddie dengan managernya Paul (sinister villain, you ruined him, damn you b!tch!!). Dan klimaksnya, Freddie yang merasa kesepian, kehilangan dirinya serta terjerumus dalam party, sex & drugs.

partySemua konflik tersebut sangat menarik, namun sedikit kritik jujur dari saya, durasi film yang hanya sekitar 2 jam lebih, tidak mampu menampung banyaknya cerita sehingga membuat film ini terkesan terburu buru, belum lagi  penambahan cerita fiktif yang cukup banyak supaya film ini menjadi lebih komersil hehe… (i.e: di film Freddie diceritakan menderita AIDS sebelum konser Live Aid padahal yang sebenarnya, Freddie mengetahuinya beberapa tahun setelah live Aid, dan mengungkapkannya kepada publik sehari sebelum kematiannya. Masalah solo karir di film ini menjadi konflik, yang dimana dalam kehidupan asli sepertinya member Queen yang lain tidak masalah dan beberapa penambahan cerita / fiktif lainnya)

Dalam film ini saya juga merasa hubungan Freddie dengan Mary Austin dan Jim Hutton terasa kurang dan dibiarkan begitu saja (come’on, mereka adalah 2 orang terdekat Freddie. Mary was his soulmate dan Jim partnernya hingga ia meninggal.) di Amerika, Film ini ber rating pg-13. Saya yakin LSF Indonesia sudah mensensor habis habisan rating pg13 ini lol. Mungkin kisah hidup Freddie yang kontroversial seharusnya lebih tepat dibuat dengan rating R. Namun jika begitu, kita semua tidak akan bisa enjoy menikmati dan bisa menyaksikannya di bioskop Indonesia. (your turn, Rocketman! I dare you to stay R Rated!😁)

Namun, saya sebenarnya tidak masalah dengan adanya beberapa kekurangan kecil dalam film tersebut. Mungkin saya berharap durasi film ini perlu ditambah lagi. Menurut saya film ini adalah salah satu film favorit saya & terbaik di tahun ini. Film ini wajib kalian tonton di bioskop, apalagi jika kalian adalah fans Queen. Ada salah satu scene saat Live Aid yang membuat saya berkaca-kaca. SPOILER: saat kamera menyorot mata Rami Malek, disaat itu kita sadar bahwa hidupnya tidak lama lagi dan ia hanya ingin memberikan yang terbaik. Beberapa scene emosional lainnya jg membuat saya tersentuh.

Saya juga menyukai humor yang ditampilkan di film ini, kostum, setting dan sinematografi. Sekali lagi, bagian favorit saya dalam film ini adalah akting para pemain khususnya Rami Malek dan adegan LIVE AID serta semua lagu Queen yang ditampilkan (I love QUEEN!)

ramiSebagai aktor, Rami Malek pantas untuk memenangkan sederet awards untuk penampilannya. Keterlibatan sutradara Brian Singer mungkin akan menjauhkan film ini dari nominasi Best Picture di beberapa ajang penghargaan. Sebagai informasi, setelah Brian Singer dipecat karena kasusnya dan konflik dengan para crew film, posisinya digantikan Dexter Fletcher (Sutradara Eddie The Eagle dan Rocketman). Namun sayang credit director kembali lagi kepada Singer berdasarkan peraturan Directors Guild of America.

Saya juga berterima kasih kepada film ini, karena generasi muda bisa mengetahui betapa kerennya musik Queen saat itu. (saat ini musik rock, youknowlah, penuh dengan autotune lol)

BOHEMIAN RHAPSODY

Overall, I enjoy this film so much. The movie is amazing, funny and sad. Rami played Freddie amazingly & his performance was just magnificent. I remember when I watched it last week, at very end, almost everyone in the theatre gave a standing ovation and clapping. A true testament to prove how great this film, especially Rami performances as Freddie Mercury)

Like I said before,  I was born the year Freddie Mercury died. So, thank you Bohemian Rhapsody for letting me feel and see even the slightest emotion of what I missed by not being born 20 years earlier. 

Baligitha Rate: Outstanding (8.5/10)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s